Senin, September 16th, 2013 | Author:

Sudah sejak pertengahan 2012 wacana mobil murah digelontorkan. Pemrakarsanya entah dari industri otomotif atau pemerintah. Waktu itu sedang rame-ramenya mobil Esemka yang digadang jadi mobil nasional berharga murah dan isu masuknya mobil kecil dari India berlabel Tata Nano.
Mungkin, industri mobil nasional yang dikuasai pabrikan Jepang takut merasa kecolongan dengan hadirnya kedua merek baru ini, hingga muncullah ide produk mobil murah. Demi mengejar konsep mobil murah ini, pabrikan menggandeng pemerintah agar bisa disubsidi entah itu dari sisi biaya produksi langsung atau juga pajaknya hingga akhirnya menjadi konsep LCGC atau  Low Cost Green Car.
LCGC atau mobil murah ramah lingkungan ini diharapkan oleh industri otomotif menjadi kendaraan utama keluarga yang ingin memiliki mobil dan meninggalkan kendaraan roda dua walaupun nyatanya pasar yang merespon adalah mereka yang sudah memiliki mobil dan ingin mempunyai mobil kedua dan seterusnya, jadi secara pasar saja belum terdidik sasarannya.
Akhirnya pedoman dari pemerintah muncul bersamaan dengan naiknya bahan bakar subsidi. Secara psikologis konsumen jadi berpikir kembali untuk memiliki kendaraan roda empat dengan pertimbangan inflasi karena kenaikan BBM yang padahal secara nasional inflasinya sudah terjadi beberapa bulan sebelum kenaikan bahan bakar subsidi diumumkan.
Lalu apakah LCGC tetap menjadi mobil murah? Nampaknya pabrikan yang dari jauh hari menunggu pedoman pemerintah merasakan efeknya. Ide harga jual sekitar 70an juta tetap bisa dijalankan tanpa ada konsekuensi berarti dari naiknya BBM. Bagaimana dengan pihak lain?
Konsumen yang mengharapkan bisa memiliki mobil dengan harga murah pun akhirnya bisa merasakan memiliki kendaraan roda empat.
Tapi, timbul polemik lain terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta yaitu macet!. Ya, macet di Jakarta seperti hal yang menunggu dan mengikuti. Bertambah jumlah kendaraan tidak sebanding dengan pertambahan jalan. Kemudian muncul polemik lain yang asalnya justru dari pemerintah sendiri. Dengan alasan mobil ramah lingkungan dan performa lebih baik, pemerintah meminta (entah akan menjadi memaksa) pengguna LCGC untuk menggunakan pertamax. Dengan perbandingan harga sekarang, untuk 2 liter pertamax bisa membeli 3 liter premium. Jika 1 liter bahan bakar pada satu kendaraan bisa untuk 15 KM, maka dengan jumlah uang yang sama, premium bisa mencapai 45 KM sedangkan pertamax hanya 30 KM. Di awal 2013 lalu pemerintah pusat maupun daerah ramai membuat aturan tentang kendaraan dengan kapasitas diatas 1500cc wajib menggunakan pertamax yang pada penerapannya aturan hanya sekedar tulisan.
LCGC tetap menggelinding di jalanan Indonesia? Pasti! Karena ada pabrikan besar yang bermain disana.
Tata Nano? Ah, itu terserah investornya berani melawan pabrikan Jepang atau tidak di Indonesia ini.
Esemka? Cuma jadi mimpi. Dukungan pemerintah hanya untuk industri ternama atau yang menguntungkan. Rakyat diminta kreatif tanpa solusi yang langsung menyentuh. Hal yang sudah nyata menghasilkan pun masih harus melalui birokrasi yang bukan cuma menghabiskan modal tapi juga menghancurkan mental.
Ketika pabrikan besar yang bicara, hampir tidak ada penghalang antara target dan pencapaian. Ketika industri kecil yang bicara, jika tak ada untungnya hanya berujung mimpi belaka.

Category: Ini Duniaku
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.